Cari Blog Ini

News Islam Bunda, Yuk Amati Buah Hati Kita

DETIK ISLAMI - SEPANJANG hidup anak berkembang dan berubah, seiring itu pulalah sebaiknya sang ibu tetap mengamati dan mencoba mengenal anaknya.
Siapakah anak kita? Bayi mungil yang ditimang ibu dan ayah ketika pertama kali?
Sembilan bulan sepuluh hari seorang ibu membawa bayinya dalam kandungan, secara naluri seorang ibu ia sudah mengenalinya. Betapapun ia belum pernah melihatnya, namun perasaan saling mengenal sudah tertanam di antara ibu dan anak.

Sejak dalam kandungan, sang ibu sudah sanggup membedakan apakah anak yang ini terbilang gesit lantaran banyak geraknya di dalam kandungan, atau tergolong tenang. Sepanjang kehamilan, sebagian ibu menyempatkan diri berdialog dengan jabang bayinya lewat usapan lembut di kulit perutnya, dan kadang ada “jawabannya” dari dalam berupa tendangan halus atau terasa sang jabang bayi bergerak.
Inilah yang menyebabkan orang dihentikan meremehkan naluri seorang ibu terhadap anaknya, lantaran kekerabatan batin sudah terjalin lewat komunikasi aktif bahkan semenjak masih dalam kandungan. Ini juga yang menyebabkan anak yang tidak dikehendaki (unwanted child) seringkali menjelma langsung bermasalah, lantaran semenjak masih dalam kandungan iapun sudah merasa tidak diterima, lewat cara bagaimana sang ibu memperlakukan kandungannya sendiri.

Selanjutnya, perkenalan pertama itupun terjadilah. Pandangan pertama ini segera menguatkan rasa cinta yang mendalam dan sang ibu mulai mengamati wajah buah hatinya. Seperti siapakah dia? Demikian pertanyaan yang paling pertama muncul. Laki-laki atau perempuan? Cantikkah? Gantengkah?
Seorang sholihah yang cerdik bersyukur tak akan berlama-lama mempersoalkan penampilan fisik, rupa maupun jenis kelamin. Ibu sholihat segera mengisi hatinya dengan rasa syukur dan segera mendapatkan buah hatinya dengan hati lapang. Sebaliknya, seorang ibu yang bodoh bersyukur mungkin meratapi bahwa bayinya lahir dengan jenis kelamin yang tidak diharapkannya. Atau merasa kecewa lantaran anaknya tidak ibarat dirinya, atau kecewa dengan cacat-cacat fisik lain, dan lain sebagainya.

Ibu sholihat kelak akan lebih gampang melaksanakan pengamatan dan pengenalan yang benar terhadap anaknya. Sedang ibu yang kurang bersyukur justru akan mengalami kendala dalam mengenali anaknya. Kekecewaan dirinya akan menjadi sekat pengamatan. Ia memandang anaknya tidak dengan obyektif lantaran sudah dilandasi rasa kecewa tadi. Semakin besar kekecewaannya, semakin sulit ia menemukan kebaikan atau kelebihan anaknya. Dapat dibayangkan, anak ibarat ini semenjak lahir sudah memiliki beban yang berat dalam perjalanan hidup selanjutnya.
Tahun-tahun pertama bersama, kalau si anak beruntung, ia akan mendapatkan kasih sayang yang cukup. Ini akan membuatnya tumbuh kembang dengan sehat dan optimal. Semakin cerdik sang ibu mengasuhnya, semakin optimal bakatnya berkembang dan akan semakin cemerlanglah dia. Tidak ada talenta yang buruk yang akan membawa seseorang kepada takdir keburukan. Tuhan Maha Adil.

Sejumlah sifat bawaan hanya membawa kemungkinan yang masih perlu diformat lagi oleh faktor pengalaman hidup anak tersebut. Jika sang anak kurang beruntung, ia akan tumbuh kembang dalam lingkungan yang merugikan dirinya. Semakin buruk perlakuan yang diterimanya, akan berinteraksi dengan talenta bawaannya menjadi sifat-sifat buruk dan lemah.
Lima tahun pertama hidupnya merupakan masa-masa penting. Umumnya di usia ini anak masih tergantung pada ibu. Oleh lantaran itu, ibu-lah yang paling lebih banyak didominasi dalam membentuk abjad dasar seseorang. Tidaklah heran kalau para ibu menjadi sasaran perusakan oleh musuh.
Tragedi Bosnia salah satu referensi ekstrimnya. Pemerkosaan massal atas kaum perempuan suatu bangsa sama juga dengan menghancurkan abjad seluruh bangsa selama beberapa generasi.

Ibu sholihat akan memanfaatkan golden age ini sebaik-baiknya. Sahabat Ali Ra menganjurkan semoga dalam tujuh tahun pertama anak dibesarkan dengan penuh permainan, lantaran selain cara itulah yang paling cocok dengan perkembangan otaknya, juga semoga anak mengawali tahun-tahun pertamanya dengan kegembiraan, bukan kesedihan atau beban kewajiban. Pribadi yang bangga lebih berpotensi menjadi langsung yang kuat.
Coba amati anak kita, apakah ia sudah tampak sebagai anak yang ceria? Jika tampak belum cukup ceria, atau bahkan tampak agak menarik diri, segeralah amati dengan teliti. Semoga bukan lantaran ada kelainan perkembangan atau cacat fisik yang belum diketahui. Jika penyebabnya sudah diketahui, maka coba pelajari bagaimana mengatasinya, kalau perlu, carilah proteksi profesional.
Sebagian besar kelainan anak diketahui pertama kali oleh pengamatan jeli sang ibu. Semakin jeli seorang ibu mengamati anak, semakin cepat cacat atau kelemahan anak diketahui dan Insya Tuhan akan semakin gampang pula ditangani semenjak dini.

Tahun-tahun berlalu kemudian buah hati kita mulai mengenal otoritas lain, yaitu guru. Kini sebagian waktunya ia lewatkan bersama orang lain. Ibu yang bijaksana akan membangun kekerabatan baik dengan guru anaknya, sehingga pendidikan rumah dan sekolah tetap bersambung. Jika tidak, anak akan mengalami kebingunan lantaran adanya perbedaan-perbedaan pendapat antara orangtua dan guru berbeda.
Ibu bijaksana juga akan aktif bertanya dan memberi masukan kepada guru tetang perkembangan anaknya. Ia tak akan kehilangan kesempatan mengamati anaknya meskipun ia tidak lagi selalu bersama anaknya.
Tahapan pengamatan dan pengenalan terakhir yang akan dilalui bersama antara ibu dan anak yakni memasuki usia dewasa. Diawali dengan masa transisi yang disebut remaja.
Di masa ini, ibu dan anak seringkali kehilangan pola komunikasi yang selama ini sudah terbentuk dengan baik. Ini lantaran sifat dari tahapan itu sendiri. Tahapan remaja yakni tahapan gejolak, di mana banyak perubahan besar terjadi.

Perubahan terbesar yakni perubahan status antara kanak-kanak menjadi dewasa. Masa ini diakui sebagai masa sulit bagi ibu dan dan anak yang bahkan sebelumnya cukup harmonis. Bagi yang sebelumnya sudah tidak harmonis. Sedangkan bagi kekerabatan yang sebelumnya sudah terputus, maka masa ini menjadi masa yang mengokohkan keterpisahan antara orangtua dengan anaknya.
Jika itu semua sudah dilalui dengan sukses, Insya Tuhan seorang bunda akan dengan gampang mengenali siapa anaknya, dan juga berarti akan bisa mendidik anaknya dengan baik. Wallahu a’lam.
0 Komentar untuk "News Islam Bunda, Yuk Amati Buah Hati Kita"

Back To Top