Cari Blog Ini

News Islam Cerita Thayub, Ketika Muslim Rohingya 'Mengejar' Australia

DETIK ISLAMI - DARI REPUBLIKA.CO.ID,Mohammad Thayub (42 tahun) pindah dari Myanmar semenjak 1988. Pria paruh baya ini membawa serta istrinya untuk keluar dari negeri yang penuh konflik itu. Menurutnya, Rohingya memang berdarah semenjak pemerintah junta militer memberlakukan kebijakan diskriminasi pada 1977.
 
Selama 11 tahun hidup di negara tersebut, banyak penyiksaan yang dialami suku muslim Rohingya. Mulai dari pemukulan, perampasan harta, penembakan, pembakaran rumah hingga memperkosa wanita dari suku muslim itu.


Biasanya tindakan brutal terhadap suku muslim Rohingya dilakukan pada malam hari dan ia beserta keluarganya sudah terbiasa untuk bersembunyi dari kejaran tentara maupun kelompok masyarakat secara umum dikuasai Myanmar pada malam hari.

"Dulu sudah biasa keluar dan masuk hutan. Makanya ada kebijakan itu sama saja untuk menghabisi suku kami," tuturnya ketika berbincang dengan Republika, di rumah detensi imigran (Rudenim) Denpasar, Bali, Selasa (28/5) dengan Bahasa Indonesia yang lancar.

Kebijakan itu, lanjutnya, merupakan salah satu kebijakan pemerintah yang sangat diskriminatif bagi suku muslim Rohingya. Bahkan untuk menikahi istri kedua, warga suku muslim Rohingya diharuskan membayar denda atau dikurung penjara selama enam bulan.

Dengan banyak sekali perlakuan diskriminatif tersebut, ia pun memutuskan untuk kabur dari negara itu pada 1988. Dia tinggal selama bertahun-tahun di Malaysia dengan impian kehidupannya akan menjadi lebih baik alasannya yakni tinggal di negara dengan secara umum dikuasai penduduknya muslim menyerupai dirinya.

Namun hingga ia sudah mempunyai empat orang anak, kehidupannya pun tak kunjung membaik. Pemerintah Malaysia, menurutnya tidak memperhatikan kehidupan bagi imigran sepertinya. Empat orang anaknya juga tidak mendapat haknya untuk memperoleh pendidikan di negara itu.

"Saya tidak ingin bila saya mati, belum dewasa saya tidak terang hidupnya. Saya mendengar kabar dari saudara di Australia mendapat hidup yang lebih baik, makanya saya dan keluarga mau ikut ke sana," jelasnya.
Bersama keluarga, beliau pun mulai mencari agen-agen untuk mengantar berlayar secara ilegal memasuki negeri kanguru itu pada 2012 lalu. Ia menemukan distributor tersebut dan meminta bayaran sebesar 10 ribu Ringgit Malaysia per orang atau sekitar Rp 30 juta.

Uang yang diminta distributor tersebut sudah dibayarkan. Waktu pemberangkatan juga sudah ditentukan. Hingga kemudian berlayar menuju Australia. Hanya, belum hingga perbatasan antara Indonesia dan Australia di Samudera Hindia, sang nakhoda melarikan diri.

Padahal ketika itu di kapal terisi sebanyak 67 orang imigran gelap menyerupai  dan tidak ada yang mengetahui cara mengemudi kapal. Setelah terombang-ambing di lautan, duabelas orang di antaranya meninggal alasannya yakni kelaparan dan kekurangan cairan.
Hingga kesudahannya bahtera yang ditumpanginya ditemukan pihak kepolisian dan ditampung di Rudenim Denpasar.

"Saya sedang menunggu proses dari UNHCR (Badan PBB untuk persoalan pengungsian). Saya berharap sanggup tinggal di Australia. Keluarga di sana sudah sanggup bekerja dan mendapat kewarganegaraan," ucapnya sambil menggendong anak kelimanya yang berusia 1 bulan 2 hari ini.
0 Komentar untuk "News Islam Cerita Thayub, Ketika Muslim Rohingya 'Mengejar' Australia"

Back To Top