Cari Blog Ini

News Islam Dongeng Inspiratif - Selamat Jalan Ayah

DETIK ISLAMI - KISAH INSPIRATIF
(eramuslim.com)
(Catatan kecil seorang anak, mengiringi kepergian ayah tercinta)
Ayah,
Sengaja ku tulis sebagian kenangan terindah bersamamu hingga Allah  tetapkan batas akhir  saya bisa bicara denganmu secara langsung. Bukan sebuah kebetulan tentunya bahwa batas itu Tuhan takdirkan sehari sebelum usiaku genap 43 tahun. 9 Nopember 2012, sebuah hari yang Insya Tuhan akan saya ingat alasannya ialah ada pelajaran besar dan sangat berharga dari Tuhan untukku.
Ayah,

Masih sangat segar dalam ingatanku ketika 24 tahun kemudian sebelum saya meninggalkan rumah untuk mencari karunia Tuhan engkau berpesan dengan penuh keyakinan :” Ini buminya Allah, nak. Disanapun walaupun jauh dan ayah tidak bisa melihatmu setiap hari juga buminya Allah. Pemiliknya satu, mintalah kepada pemiliknya terhadap mengembangkan hal. Jangan lupa istiqomahlah dengan salah satu amalan Rasulullah yaitu puasa sunah Senin-Kamis. Insya Tuhan kau akan selalu diberi Tuhan jalan keluar dari banyak sekali kesulitan.”
Jujur, kalimat tersebut menghujam berpengaruh disanubariku, menguatkan mental dan jiwaku. Ada  sandaran berpengaruh yang ayah tanamkan kepadaku yaitu Tuhan dan Rasulnya. Semampuku saya berusaha untuk bisa istiqomah dengan nasehatmu, walaupun mungkin masih jauh dari harapanmu.
Setelah hari itu, mulailah saya mencar ilmu mengarungi kehidupan yang cukup keras ini dengan segala liku-likunya tanpa bimbingan eksklusif dari ayah. Sedang saya sendiri sudah tidak banyak tahu aktifitas keseharian ayah. Cuman sering kali saya merasa rindu dengan nasehat ayah yang selalu menyejukkan hatiku.
Ayah,

Kalaulah Tuhan menghendaki sakitmu sebulan kemarin tentunya bukan tanpa maksud. Sungguh selama ini memang Tuhan rasanya tidak pernah memberimu sakit yang cukup berat. Paling banter pusing atau capek dan alhamdulillah paginya sudah sembuh. Satu hal yang membuatku aib ketika ayah merasa merepotkan anak-anaknya ketika harus keluar masuk rumah sakit sebagai ikhtiar. Betapa hanya dengan beberapa hari saja di rumah sakit ayah sudah merasa merepotkan kami sebagai anak-anaknya. Padahal kami justru yang selalu merepotkanmu dari bayi hingga kemarin itu. Nggak sanggup saya menghitung  jasamu, ayah…. .
Hari yang sangat berat bagiku ketika dalam perjalanan 3 adikku yang sudah duluan menungguimu di rumah sakit masing-masing memintaku biar segera ke rumah sakit. Aku nggak menghitung lagi waktu tempuh Cepu-Blora yang biasanya sekitar 45 menit. Yang ku tahu pedal gas sudah kuinjak dengan tepat sembari konsentrasi di beberapa tikungan yang cukup tajam. Aku hanya berfikir niscaya ada sesuatu yang besar yang ingin ayah sampaikan kepadaku.
Sesaat sesudah hingga ke ruang Mawar kucium tanganmu dan kupeluk badanmu yang semakin kurus. Aku terkejut ketika ayah kutanya apakah yang dirasakan dan bagaimana dengan obat yang diberikan dokter. “ Ayah sudah nggak berpengaruh lagi nak, ayah sudah semampunya berusaha untuk bisa minum obat dan sedikit masakan yang disiapkan rumah sakit. Semuanya sudah di tolak oleh tubuh ayah, semua sudah nggak bisa masuk. Seandainyapun Tuhan menghendaki ayah untuk sowan( menghadap) sebaiknya tidak di sini, tapi di rumah saja.” Pecah tangis istri dan adik-adikku…

Aku berusaha tabah untuk mendapatkan nasehat dan keinginan berikutnya dari ayah. “ Sekarang urus kepulangan ayah dari rumah sakit dan hubungi 2 adikkmu yang masih di Berau (Kaltim).” Berbagi kiprah dengan adikku ke 4 yang kebetulan sudah duluan hingga dari Pontianak untuk mengurus segala administrasi, saya berusaha menghubungi adik-adikku sesuai permintaanmu. Sempat salah satu adikku keberatan jikalau ayah dibawa pulang dengan kondisi ibarat itu. Pelan-pelan saya jelaskan pada mereka bahwa seandainya jalan terbaik bagi ayah ialah panggilan Allah, kasihan sekali jikalau ayah merasa tertekan secara psikis dan kitapun tidak mungkin bisa menungguinya ketika berada di ruang perawatan. Entahlah, saya melihat betapa ayah sudah begitu tulus ingin segera menghadap Rab-nya.
Ayah,

Aku begitu kaget ketika ayah hingga di rumah. Ternyata banyak sudah tetangga yang menunggu. Aku pikir alasannya ialah ayah gres pulang dari rumah sakit. Ternyata dugaanku keliru. Ibu kisah bahwa rumah ini selalu penuh tamu semenjak ayah sakit, dan itu bahkan hingga tengah malam. Setiap hari selalu begitu. Ah, ayah… betapa Tuhan memuliakanmu. Satu sisi kami bahagia dengan kunjungan dan do’a mereka walaupun  disisi lain menjadi sangat sulit bagi ayah untuk bisa istirahat. Bahkan sebagian dari mereka rela tidur dengan ganjal tikar dan sebagian lagi menggelar terpal. Sebagian lagi malah tidur di tegel yang cukup hirau taacuh itu. Aku jadi teringat perkataan ayah ketika anak-anakmu dulu kepingin banget merenovasi lantai rumah dengan keramik yang murahan sekalipun. Saat itu ayah menolak secara halus dengan alasan : ” Sudah cukup aja dengan tegel ibarat ini, yang umum aja, biar tetangga tidak sungkan jikalau mau kesini”. Aku mengerti sekarang…
Dua hari di rumah alhamdulillah ayah mulai bisa minum obat lagi dan sesekali makan bubur.  Kegiatan satu-satunya bagi ayah ialah minta dipijit tangan dan kaki oleh anak-anakmu sambil memutar tasbih di tangan kananmu. Hari ketiga ayah kelihatan lebih segar, masih mau makan bubur dan minum teh hangat. Kadang-kandang ayah menanyakan beberapa anak dan cucunya yang sedang main diluar.

Kamis, hari ke empat ayah dirumah. Kembali kondisi ayah drop. Satu-satunya rizqi yang Tuhan masih perkenankan masuk ketubuh ayah hanyalah air putih atau teh hangat. Kesadaran ayah masih normal, sehingga saya bisikkan di indera pendengaran ayah biar wirid menyebut nama Tuhan setiap saat. Ayah mengangguk dan dengan lirih ayah melanjutkan wiridnya.  Menjelang magrib ayah bertanya :” Le ( nak), kok belum tiba ya yang jemput bapak ?” Aku berusaha meyakinkah ayah jikalau kepastian Tuhan belum hingga waktunya. ” Tolong bapak di doakan dan di ikhlaskan ya .”  Aku  mengangguk sambil mendekati ibu apakah ibu sudah mengikhlaskan ayah jikalau harus sowan.
Bedug Magrib gres terdengar dari musholla depan rumah. Aku kumpulkan adik-adikku untuk jamaah dan khusus mendo’akan kebaikan bagi ayah. Kalau seandainya Tuhan menghendaki ayah sehat, berarti ayah masih diberi kesempatan untuk membimbing kami dan menambah catatan amal kebaikannya, dan seandannyapun Tuhan menghendaki ayah untuk sowan, itulah yang terbaik alasannya ialah ayah akan menghadap Yang Maha Penyayang. Ikhtiar harus semaksimal mungkin alasannya ialah ikhtiar itu juga ada pahalanya. Sedangkan hasil terserah Tuhan saja, alasannya ialah saya yakin Tuhan tidak akan menyia-nyiakan ayah, apalagi ini malam Jumat. Begitu yang kusampaikan kepada adik-adikku.
Malam jumat itu mudah semalam kami tidak tidur, bergantian jaga dengan paman yang kebetulan menginap di rumah. Aku juga bahagia melihat adik-adik ayah begitu telaten menjaga ayah sambil mengajak ayah untuk selalu berdzikir menyebut asma Allah. Sekira jam 9.00 pagi Jumat itu tiba-tiba ayah terbangun dari dzikir panjang dan memanggil kami satu persatu. Mulai dari ibu, ayah membisikkan kata pamit, kemudian saya, kemudian berlanjut ke adik-adik. Dengan aba-aba ayah panggil satu persatu yang hadir untuk mendekat kemudian ayah ulurkan tangan untuk meminta maaf. Suasana jadi hening. Tiba-tiba ayah memanggilku untuk mendekat “ Jon, pindahkan ayah dari kamar ini ke ruang tengah supaya orang-orang yang hadir  bisa leluasa mendekat dan mendoakan”. Aku ajak beberapa tetangga untuk memindahkan ayah ke ruang itu. Dan ternyata benar apa yang ayah maksudkan, semakin banyak yang hadir dan mendoakan. Pelajaran yang luar biasa bagiku,ayah……
Jam 9.40 ketika saya lihat ayah berdzikir menyebut asma Tuhan dengan mata tertutup. Sebutan Tuhan itu semakin pelan ketika ayah meluruskan kedua kaki dan menaruh kedua tangan bersedekap ibarat waktu sholat. Semakin pelan … dan ibarat tertidur pulas ayah akhiri kehidupan di dunia ini. Subhanallah. Aku pastikan denyut nadi di beberapa titik dan kudekatkan telingaku di akrab hidung ayah. Innalillahi wa inna ilaihi ro’jiun….

Aku sampaikan kepada ibu dan adik-adikku bahwa ayah telah berangkat sowan kepada Rab-nya. Begitu juga kepada sanak saudara. Kucium ayah untuk terakhir kalinya , diikuti oleh ibu dan adik-adikku. Kulihat adik-adik ayah yang semuanya pria itu mulai merawat dan menyiapkan segala keperluan jenazah. Beberapa orang dari rukun simpulan hidup mendekatiku dan bertanya dengan pelan :” Mas, mau diteruskan atau dikebumikan besok jenazahnya?”. Aku jawab : “ Tidak ada yang dinantikan lagi kok mas, ba’da sholat Jumat aja, biar ayah bisa segera bertemu dengan yang dituju-nya”.
Sambil menunggu drum air penuh, saya duduk di dingklik teras. Dua orang yang biasa khotbah Jumat di masjid akrab rumah mendekatiku . Mereka bercerita pengalaman bersama ayah. Yang satu bercerita bahwa ayah ialah santri semenjak kecil, dan setiap Jumat selalu duluan kemasjid, bahkan ketika masjid masih sepi, duduk persis didepan mimbar, menunggu waktu sambil berdzikir dan tidak pernah dilihat mengantuk pada ketika khotbah berlangsung. Aku jadi aib ayah…. , masih jauh yang saya lakukan dan dari rujukan yang ayah berikan.
Yang kedua bercerita di setiap dia menengok ayah ketika sakit sebulan terakhir, selalu ayah dalam keadaan berdzikir sambil memutar tasbih di tangan kanannya. Kalau ayah jamaah sholat Magrib niscaya digenapkan dzikirnya hingga masuk waktu Isya. Kalau yang terakhir ini memang sering saya lihat ketika cuti dan ikut berjamaah bersama beliau.

Perkiraanku ayah gres sempat dimandikan sesudah Sholat Jum’at. Ternyata keliru. Alhamdulillah semua berjalan cepat. Aku ajak 2 adikku yang pria untuk membopong  mayat ketika dimandikan, sementara ibu dan adik-adikku yang wanita ikut menyiramkan air di tubuh ayah. Sesekali kulihat wajah ayah yang kelihatan lebih muda dari umurnya yang sudah 74 tahun, saya lihat kulit ayah menjadi lebih kuning dan bersih. Kurasakan tanganku yang melekat dipunggung ayah, rasa hangat di tubuh ayah. Ah , ayah… , ternyata anakmu ini hanya sekali memangku tubuhmu. Entah berapa ribu atau juta kali engkau lakukan itu terhadap saya dan anak-anakmu.

Selesai memandikan saya dan adik-adikku mandi dan berganti pakain. Betapa terkejutnya aku  ketika keluar kamar mandi ternyata ayah sudah di kafani dan di sholatkan oleh jamaah. Ruang tengah itu jadi penuh sesak. Ah, ayah… semakin yakin saya akan kemurahan Tuhan padamu hari ini, betapa ayah semuanya ingin cepat. Beberapa adikku bertanya :” Mas kita ketinggalan untuk ikut menyolatkan bapak”. Aku bilang :” Kita tunggu mereka selesai berdo’a, nanti kita belum dewasa dan cucu-cucunya sholat mayat sendiri”.
Ayah,
Aku menyaksikan sendiri betapa ayah begitu akrab dengan tetangga dan jamaah masjid. Selesai sholat Jumat seluruh jamaah masjid tiba ke rumah untuk menyolatkan ayah . Sholat mayat yang ketiga pada hari itu. Masya Allah. Beberapa pengurus masjid kisah jikalau ayah selalu paling duluan jikalau diajak kerja bhakti di masjid. Bahkan untuk urusan masjid atau musholla ayah tidak pernah menyuruh orang lain untuk membeli semen misalnya. Ayah selalu berangkat sendiri dengan sepeda bau tanah kesayangan ayah, walaupun sebaliknya ketika ayah perlu beli semen untuk rumah biasanya minta tolong keponakan yang memang tidak jauh dari rumah. Pernah siang hari tiba-tiba ayah membawa 3 batang besi dengan sepeda alasannya ialah tiang pengeras bunyi musholla depan rumah yang sebelumnya dari bambu itu roboh dimakan usia.
Keberangkatanmu ke liang lahat juga saya rasakan sangatlah cepat. Hampir saya tidak bisa mengikuti langkah cepat adik-adikku dalam mengantarmu ke makam. Begitupun ketika engkau kami turunkan ke liang lahat, terlihat damai di wajah ayah.
Ayah,
Kalau ketika ini saya sudah mustahil lagi menemani dan menungguimu, sungguh kami anak-anakmu sudah menyerahkan engkau kepada Yang Maha Rahman dan Rahim, yang pengasihnya tidak tertandingi oleh kasihnya mahkluk, termasuk sayangnya kami kepadamu. Tetap saja lebih banyak dan tak terhingga Rahimnya Tuhan kepada makhluknya. Kami berkhusnudhon kepada-Nya atas kemurahan-Nya terhadap ayah. Ayah dipanggil dalam keadaan berdzikir dan hari Jumat. Ini tentu karunia luar biasa untuk ayah dan kami anak-anakmu. Ayah di takdirkan dipanggil oleh Tuhan dengan didampingi oleh ibu, paman, bibi, anak, dan semua cucumu. Ayah ditakdirkan bisa memohon maaf kepada seluruh yang hadir hari itu. Masya Allah. Sungguh kami sangat bersyukur dengan keadaan ini walaupun satu sisi kami merasa kehilanganmu.
Aku hanya bisa senantiasa berdo’a untuk memohonkan ampunan kepada yang Maha Pengampun dan memohonkan kebaikanmu di alam kubur dan di alam akherat kelak. Insya Tuhan kami niscaya menyusulmu….

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ
 M.JONO AG
masjono@telkom.co.id
0 Komentar untuk "News Islam Dongeng Inspiratif - Selamat Jalan Ayah"

Back To Top