DETIK ISLAMI - KISAH INSPIRATIF
Melissa Perez lahir dan besar dalam keluarga Katolik. Sejak kecil ia erat dengan ritual Kristen menyerupai Natal, Misa, dan Rosario. Meski keluarganya percaya pada satu Tuhan, yang disebut Yesus, namun, pada waktu lain mereka menyebutnya lain, ialah Bapa. Inilah yang membingungkan Mellisa.
Menurut Melissa, cara hidup Kristen tidak benar-benar ketat. Meski banyak hukum dalam Bibel yang mewajibkannya mengikuti dan mempraktekannya, ia tidak merasa ada banyak tekanan guna mengikuti hukum itu.
"Dalam Katolik, dikala Anda sungguh-sungguh bertobat kepada-Nya, maka Yang Mahakuasa akan mengampuni Anda. Prinsip ini menyerupai dengan aliran Islam. Yang membedakan mungkin, setiap dosa tanggung jawab masing-masing, jikalau Kristen dosa itu ditanggung Yesus," kata ia menyerupai dikutip Onislam.net, Kamis (28/8).
Lantaran dibesarkan dalam aliran Katolik, Melissa tidak mengetahui aliran lain. Ia bahkan tidak mengenal aliran Islam. Ia hanya tahu umat Islam itu pembunuh. Mereka kerap membunuh orang lain dikala marah.
Saat di Filipina, Melissa melihat umat Islam jarang berbaur dengan komunitas Kristen. Mereka mempunyai komunitas dan wilayah tersendiri. "Ketika saya masih menetap di Filipina, rasanya sangat tidak mungkin berguru Islam. Ketika di luar, saya bersyukur mengetahui pesan sejati Islam, Alhamdulillah," tuturnya.
Melissa berguru hidup berdikari pada usia muda. Orang tuanya bercerai dikala ia masih muda. Kala menghadapi kesulitan itu, Melissa tidak tahu dengan siapa harus berbicara. Sejak itulah, ia tetapkan meminta pemberian Tuhan.
Pada usia 18 tahun, Melissa mulai bekerja di luar negeri dengan impian sanggup mencapai kehidupan yang lebih baik. Berkat kerja kerasnya, ia berhasil membeli rumah dalam usia 23 tahun
Saat tinggal di luar negeri, Melissa mencicipi perbedaan yang besar dalam hal budaya. Ia mempunyai kebebasan yang tak mungkin didapatnya dikala berada di Filipina.
Kemudian dikala berusia 29 tahun, muncul keinginan untuk menetap. Ia mulai berpikir membentuk keluarga kecilnya. "Saat itulah, saya bertemu dengan suaminya via internet, kemudian saya diajak ke Mesir, dan Alhamdulillah, kami menikah di sana," tuturnya.
Awalnya, Melissa galau dikala ia bersuamikan seorang Muslim. Ia membayangkan akan ada kesulitan adaptasi. Suaminya berhasil menyakinkan Melissa untuk tidak terlalu khawatir. "Yang jadi masalah, bagaimana saya menjelaskan kepada keluarga bahwa suami saya seorang Muslim," ungkapnya.
Source :http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/08/30/msaq6d-melissa-perez-kagumi-ritual-shalat
Melissa Perez lahir dan besar dalam keluarga Katolik. Sejak kecil ia erat dengan ritual Kristen menyerupai Natal, Misa, dan Rosario. Meski keluarganya percaya pada satu Tuhan, yang disebut Yesus, namun, pada waktu lain mereka menyebutnya lain, ialah Bapa. Inilah yang membingungkan Mellisa.
Menurut Melissa, cara hidup Kristen tidak benar-benar ketat. Meski banyak hukum dalam Bibel yang mewajibkannya mengikuti dan mempraktekannya, ia tidak merasa ada banyak tekanan guna mengikuti hukum itu.
"Dalam Katolik, dikala Anda sungguh-sungguh bertobat kepada-Nya, maka Yang Mahakuasa akan mengampuni Anda. Prinsip ini menyerupai dengan aliran Islam. Yang membedakan mungkin, setiap dosa tanggung jawab masing-masing, jikalau Kristen dosa itu ditanggung Yesus," kata ia menyerupai dikutip Onislam.net, Kamis (28/8).
Lantaran dibesarkan dalam aliran Katolik, Melissa tidak mengetahui aliran lain. Ia bahkan tidak mengenal aliran Islam. Ia hanya tahu umat Islam itu pembunuh. Mereka kerap membunuh orang lain dikala marah.
Saat di Filipina, Melissa melihat umat Islam jarang berbaur dengan komunitas Kristen. Mereka mempunyai komunitas dan wilayah tersendiri. "Ketika saya masih menetap di Filipina, rasanya sangat tidak mungkin berguru Islam. Ketika di luar, saya bersyukur mengetahui pesan sejati Islam, Alhamdulillah," tuturnya.
Melissa berguru hidup berdikari pada usia muda. Orang tuanya bercerai dikala ia masih muda. Kala menghadapi kesulitan itu, Melissa tidak tahu dengan siapa harus berbicara. Sejak itulah, ia tetapkan meminta pemberian Tuhan.
Pada usia 18 tahun, Melissa mulai bekerja di luar negeri dengan impian sanggup mencapai kehidupan yang lebih baik. Berkat kerja kerasnya, ia berhasil membeli rumah dalam usia 23 tahun
Saat tinggal di luar negeri, Melissa mencicipi perbedaan yang besar dalam hal budaya. Ia mempunyai kebebasan yang tak mungkin didapatnya dikala berada di Filipina.
Kemudian dikala berusia 29 tahun, muncul keinginan untuk menetap. Ia mulai berpikir membentuk keluarga kecilnya. "Saat itulah, saya bertemu dengan suaminya via internet, kemudian saya diajak ke Mesir, dan Alhamdulillah, kami menikah di sana," tuturnya.
Awalnya, Melissa galau dikala ia bersuamikan seorang Muslim. Ia membayangkan akan ada kesulitan adaptasi. Suaminya berhasil menyakinkan Melissa untuk tidak terlalu khawatir. "Yang jadi masalah, bagaimana saya menjelaskan kepada keluarga bahwa suami saya seorang Muslim," ungkapnya.
Source :http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/13/08/30/msaq6d-melissa-perez-kagumi-ritual-shalat

0 Komentar untuk "News Islam Melissa Perez Kagumi Ritual Shalat"