DETIK ISLAMI - RENUNGAN HARIAN
Oleh, Satriawan Muhammad Anun As-Sasakiy
SEORANG MUSLIM pastinya sangat memahami bahwa keselamatan dan kebahagiannya di dunia maupun di alam abadi sangatlah ditentukan oleh kebersihan jiwanya, kesucian dan kemuliaan jiwanya dan hingga sejauh mana dia mendidiknya dengan adab-adab Islam. Sebagaimana kesengsaraan dirinya sangat ditentukan oleh kerusakan dan kekotoran jiwanya.
Karenanya lazim atas seorang Muslim untuk mendidik dirinya sendiri, mensucikan dan membersihkan jiwanya, menjauhkannya dari hal yang dapat menodai dan mengotorinya baik itu berupa keyakinan yang rusak, maupun perkataan dan perbuatan maksiat.
Firman Tuhan SWT. : “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan bekerjsama merugilah orang yang mnegotorinya.” (Q.S As’Syams:9-10)
Diantara langkah-langkah yang dilakukan untuk mendidik jiwa dalam memperbaikinya serta mensucikannya yaitu :
Taubat. Yaitu menghindarkan diri dari segala bentuk maksiat, mentesali dosa-dosa yang telah dilakukan dan berazam untuk tidak kembali kedalam lumpur dosa pada sisa-sisa umur yang ada.
Firman Tuhan SWT. : “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Tuhan dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kau akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukan kau ke dalam nirwana yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…” (Q.s At-Tahrim:8)
Muraqabah. Yaitu membawa jiwa pada kondisi selalu merasa diawasi dan diintai oleh Tuhan SWT. setiap saat, dimanapun dan kapanpun.
Firman Tuhan SWT. : “Sesungguhnya Tuhan selalu menjaga dan mengawasi kamu” (Q.S An-Nisa : 1)
Mujahadah. Yaitu mengarahkan jiwa dengan sungguh-sungguh kepada keta’atan dan kebaikan serta menekan dan melawannya dari berbuat keburukan dan kemaksiatan.
Firman Tuhan SWT. : “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” (Q.S. Al-Ankabut:69)
Mu’aqabah. Yaitu memperlihatkan sangsi kepada diri jikalau lalai melaksanakan suatu kebaikan atau tidak tepat menunaikannya. Seperti halnya Abdullah Ibnu Umar, jikalau ketinggalan berjama’ah shalat, dia selalu menghidupkan seluruh malam hari itu dengan ibadah.Beliau pernah mengakhirkan shalat Maghrib hingga nampak dua bintang dilangit, kemudian dia membebaskan dua orang budak.Ataupun Abu Thalhah yang pernah disibukkan oleh kebunnya dari shalatnya (telat), kemudian dia mengeluarkan shadaqah dari kebunnya itu.
Muhasabah. Yaitu mengintropeksi diri dalam pelaksanaan perintah Tuhan dan meninggalkan laranganNya. Baik itu muhasabah harian, mingguan, bulanan maupun tahunan. bagaikan seorang pedagang yang mengecek dagangannya diakhir bulan apakah ia mengalami rugi atau untung.
Firman Tuhan SWT. : “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Tuhan dan hendaklah setiap diri memperlihatkan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, bekerjsama Tuhan Maha Mengetahui apa yang kau kerjakan”. (Q.S. Al-Hasyr: 18 )
Seorang penulis buku Adab-Adab Islam
Oleh, Satriawan Muhammad Anun As-Sasakiy
SEORANG MUSLIM pastinya sangat memahami bahwa keselamatan dan kebahagiannya di dunia maupun di alam abadi sangatlah ditentukan oleh kebersihan jiwanya, kesucian dan kemuliaan jiwanya dan hingga sejauh mana dia mendidiknya dengan adab-adab Islam. Sebagaimana kesengsaraan dirinya sangat ditentukan oleh kerusakan dan kekotoran jiwanya.
Karenanya lazim atas seorang Muslim untuk mendidik dirinya sendiri, mensucikan dan membersihkan jiwanya, menjauhkannya dari hal yang dapat menodai dan mengotorinya baik itu berupa keyakinan yang rusak, maupun perkataan dan perbuatan maksiat.
Firman Tuhan SWT. : “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan bekerjsama merugilah orang yang mnegotorinya.” (Q.S As’Syams:9-10)
Diantara langkah-langkah yang dilakukan untuk mendidik jiwa dalam memperbaikinya serta mensucikannya yaitu :
Taubat. Yaitu menghindarkan diri dari segala bentuk maksiat, mentesali dosa-dosa yang telah dilakukan dan berazam untuk tidak kembali kedalam lumpur dosa pada sisa-sisa umur yang ada.
Firman Tuhan SWT. : “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Tuhan dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kau akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukan kau ke dalam nirwana yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…” (Q.s At-Tahrim:8)
Muraqabah. Yaitu membawa jiwa pada kondisi selalu merasa diawasi dan diintai oleh Tuhan SWT. setiap saat, dimanapun dan kapanpun.
Firman Tuhan SWT. : “Sesungguhnya Tuhan selalu menjaga dan mengawasi kamu” (Q.S An-Nisa : 1)
Mujahadah. Yaitu mengarahkan jiwa dengan sungguh-sungguh kepada keta’atan dan kebaikan serta menekan dan melawannya dari berbuat keburukan dan kemaksiatan.
Firman Tuhan SWT. : “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” (Q.S. Al-Ankabut:69)
Mu’aqabah. Yaitu memperlihatkan sangsi kepada diri jikalau lalai melaksanakan suatu kebaikan atau tidak tepat menunaikannya. Seperti halnya Abdullah Ibnu Umar, jikalau ketinggalan berjama’ah shalat, dia selalu menghidupkan seluruh malam hari itu dengan ibadah.Beliau pernah mengakhirkan shalat Maghrib hingga nampak dua bintang dilangit, kemudian dia membebaskan dua orang budak.Ataupun Abu Thalhah yang pernah disibukkan oleh kebunnya dari shalatnya (telat), kemudian dia mengeluarkan shadaqah dari kebunnya itu.
Muhasabah. Yaitu mengintropeksi diri dalam pelaksanaan perintah Tuhan dan meninggalkan laranganNya. Baik itu muhasabah harian, mingguan, bulanan maupun tahunan. bagaikan seorang pedagang yang mengecek dagangannya diakhir bulan apakah ia mengalami rugi atau untung.
Firman Tuhan SWT. : “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Tuhan dan hendaklah setiap diri memperlihatkan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, bekerjsama Tuhan Maha Mengetahui apa yang kau kerjakan”. (Q.S. Al-Hasyr: 18 )
Seorang penulis buku Adab-Adab Islam

0 Komentar untuk "News Islam Renungan Harian - Susila Terhadap Diri Sendiri"