Cari Blog Ini

News Islam Kesaksian Para Andal Kitab Perihal Kebenaran Islam | Bab Pertama



DETIK ISLAMI - KEBESARAN ALLAH
Dalam artikel kali ini, kita akan membahas perihal kesaksian para Ahli Kitab (Orang-orang Yahudi dan Kristen).
Ada orang Nasrani di Arab yang berjulukan Waraqah. Dia ialah sepupu jauh Nabi Muhammad S.A.W. dan kerabat erat Khadijah (istri pertama Nabi Muhammad).
Ketika Nabi Muhammad pertama kali mendapatkan wahyu yang turun dari Gua Hira, ia berlari ketakutan menuruni gunung menuju ke istrinya. Kemudian istrinya (Khadijah) menyarankan untuk mengunjungi Waraqah.

Ketika Waraqah mendengarkan dongeng Nabi S.A.W., ia menyampaikan bahwa Nabi Muhammad didatangi Roh Kudus (Malaikat Jibril). Kemudian ia berkata: "Sesungguhnya, demi Dia yang menggenggam jiwa Waraqah, kamu ialah seorang Nabi, dan telah tiba kepadamu malaikat yang pernah tiba kepada Musa. Kemudian orang-orang akan menyebutmu pembohong sehingga mereka akan mengusirmu dan melawanmu. Demi Allah, jikalau umurku panjang, maka saya niscaya akan mengikutimu." Dan Waraqah sendiri meninggal tidak usang sesudah insiden itu.
Juga ada sebuah komunitas Yahudi yang hijrah ke Arab alasannya ialah mengharapkan kedatangan Nabi terakhir di Arab. Bahkan setengah Rabbi Yahudi di Madinah masuk Islam.
Salah satu rabbi Yahudi yang sangat populer alasannya ialah kecerdasannya ialah Abdullah bin Salam. Dia pernah berkata kepada Nabi Muhammad S.A.W.: “Kami tahu namamu, kapan, dan dimana kamu akan datang.” Abdullah ibn Salam sendiri masuk Islam. Ketika ia masuk Islam, ia berkata kepada Nabi S.A.W. "Ya Rasulullah, orang-orang Yahudi sangat licik, jadi mari kita uji mereka sebelum mengumumkan ke-Islam-anku.”
Jadi Abdullah ibn Salam mengumpulkan semua orang Yahudi. Kemudian Nabi Muhammad bertanya kepada salah satu Yahudi: "Bagaimana menurutmu jikalau Abdullah bin Salam masuk Islam?" Mereka berkata: "Semoga Yang Mahakuasa melindungi kami dari itu, ia tidak akan pernah menjadi Muslim." Kemudian Nabi Muhammad berkata "Jadi, apa pendapatmu tentangnya?" Dia mengatakan: "Dialah orang yang terbaik di antara kami, orang yang paling berpengetahuan di antara kami, dan orang yang paling bijaksana di antara kami. Tapi ia tidak akan pernah menjadi Muslim." Kemudian Nabi berkata: "Bagaimana pendapatmu jikalau ia menjadi Muslim?" Mereka berkata: "Dia tidak akan pernah menjadi muslim, semoga Yang Mahakuasa melindungi kami dari hal itu."
Dan ketika mereka berkata begitu untuk ketiga kalinya, Abdullah bin Salam keluar dari kawasan persembunyiannya dan mengucapkan dua kalimat syahadat: "Asyhadu Anla Ilaha Ilallah Wa Ashyadu Anna Muhammadan Abduhu wa Rassulu." Sehabis ia mengucapkan dua kalimat syahadat, orang-orang Yahudi pribadi berkata: "Dialah orang yang paling ndeso di antara kami, yang paling jelek di antara kami, dan yang paling sedikit pengetahuannya di antara kami."
Jadi mereka benar-benar berubah perilaku ketika tahu Abdullah bin Salam menjadi Muslim.
Adalagi kisah lainnya perihal Negus raja Abyssinia. Pada masa-masa awal Islam di Mekkah, umat Islam yang miskin sering disiksa oleh orang-orang kafir Mekkah. Di antara golongan yang miskin itu ialah para budak. Karena keadaan semakin buruk, maka mereka tetapkan untuk berhijrah.
Nabi Muhammad S.A.W.  menyarankan pengikutnya untuk pergi ke Abyssinia alasannya ialah disana ada seorang raja yang selalu berlaku adil. Tetapi kaum Quraisy mempunyai kekerabatan yang sangat baik dengan raja Abyssinia. Dan mereka mengirimkan perwakilan untuk menawan kembali orang-orang Mekkah yang melarikan diri.
Jadi kaum Quraisy mengirimkan perwakilannya menghadap raja Abyssinia dan berkata “Kami mempunyai para buronan, mereka telah melarikan diri dari negara mereka dan mereka telah menghina agama nenek moyang kami.” dan terus-menerus mengarang dongeng bohong. Makara Negus memerintahkan para imigran yang tiba ke negaranya untuk tiba ke pengadilan, dan ia bertanya kepada mereka perihal agama dan kebenaran tuduhan ini.
Dan Jafar bin Abu Thalib yang merupakan pemimpin umat Muslim di Abyssinia berkata kepada raja:
"Wahai Negus Raja Abyssinia, kami merupakan orang-orang bodoh, menyembah berhala, makan bangkai, dan terlibat dalam pelacuran. Kami mengolok-olok tetangga kami, kami menindas saudara kami sendiri, dan yang besar lengan berkuasa menindas yang lemah.
Lalu seorang laki-laki muncul di antara kami dan ia dikenal sebagai orang yang jujur dan sanggup dipercaya. Orang ini berseru semoga kami masuk Islam. Dan ia mengajarkan kami untuk tidak menyembah berhala, tidak saling membunuh,  tidak menipu belum dewasa yatim serta mengambil harta mereka, dan selalu bicara jujur. Dia mengajarkan kami untuk berbaik hati kepada tetangga dan tidak memfitnah wanita. Ia menyerukan kepada kami untuk sembahyang, berpuasa, dan menawarkan sedekah. Kami mengikutinya, menjauhi penyembahan berhala, serta menahan diri dari segala perbuatan jahat. Karena kehidupan kami mengikuti seruannya, maka kaum kami memusuhi kami dan memaksa kami untuk kembali ke kehidupan usang kami yang salah arah." 
Ketika raja Abyssinia mendengarnya, ia berkata “Tidak mungkin saya akan mengembalikan orang-orang ini kepada kalian, mereka tidak melaksanakan kesalahan dan mereka bebas untuk tinggal dalam kerajaanku.” Tapi delegasi Quraisy tidak mengalah begitu saja. Salah satu dari mereka berkata kepada Negus:  "Umat muslim menyampaikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan atau anak Tuhan, mereka menyampaikan ia hanya Nabi Tuhan. Tanya saja mereka, jadi gotong royong mereka menghina agamamu."
Jadi Negus memanggil mereka kembali ke pengadilan pada hari berikutnya dan Jafar bin Abu Thalib sangat khawatir, ia tidak tahu harus berkata apa, tapi ia bertekad untuk bicara jujur.
Jadi Negus bertanya: "Apa menurutmu perihal Yesus?" Jafar berkata: "Kami menyampaikan apa yang Nabi kami sabdakan, bahwa ia ialah Rasul Allah, firman-Nya yang diberikan kepada Maria, dan juga ruh-Nya, dan ia diberi kitab berjulukan Injil."
Dan ketika Negus mendengarnya, ia berkata: “Sesungguhnya Yesus  tidak pernah berkata lebih daripada itu perihal dirinya. Kitab apa ini yang kamu baca?" Kemudian Jafar bin Abu Thalib membaca beberapa ayat awal surat al-Maryam, yang menceritakan perihal Yesus (Nabi Isa A.S.) dengan begitu indah. Dan ketika ia membaca ayat-ayat ini, Negus dan orang-orang yang hadir disana mulai menangis, bahkan para uskup mulai menangis alasannya ialah keindahan ayat-ayat Al’Quran yang menceritakan perihal Yesus. Kemudian Negus berkata: "Sesungguhnya apa yang Nabimu sampaikan dan apa yang Yesus sampaikan ialah dua hal dari sumber yang sama. Kalian bebas untuk tinggal dan hidup dalam Kerajaan-Ku." Bahkan Negus dari Abyssinia masuk Islam. Ia mengakui kebenaran bahwa Muhammad S.A.W.  adalah seorang rasul Allah.
Sekarang saya akan membacakan sebuah kisah yang populer dari Sahih Imam Bukhari. Kisah ini mengisahkan ketika Nabi Muhammad sudah berada di Madinah. Pada ketika itu, Nabi Muhammad mengirim surat kepada banyak sekali penguasa dan pejabat di seluruh dunia, termasuk Kaisar Romawi, Persia, Paus di Roma, Negus dari Abyssinia, dan Kaukus pemimpin Kots di Mesir.
Salah satu dari surat-surat itu mencapai Heraclius yang merupakan Kaisar Romawi pada zaman itu. Dan ketika Heraclius mendapatkan surat ini, ia memanggil penerjemahnya. Disana juga ada beberapa orang Arab, salah satunya ialah Abu Sufyan. Kebetulan ia sedang berada di Yerusalem ketika Heraclius mendapatkan surat ini.
Abu Sufyan ialah sepupu Nabi dan ia ialah pemimpin orang kafir Mekkah, jadi ia menentang anutan Islam dan Nabi Muhammad. Makara saya akan membacakan kisah itu berdasarkan dongeng Abu Sufyan, alasannya ialah pada kesudahannya Abu Sufyan menjadi Muslim. Makara ia menceritakan kisahnya kepada Abdullah Ibnu Abbas (sahabat Nabi Muhammad S.A.W.), dan Ibnu Abbas mengutipnya.
"Heraclius memanggil penerjemahnya. Penerjemah itu menerjemahkan kata-kata yang Heraclius ucapkan. Dan Heraclius berkata: "Siapa di antara kalian yang bekerjasama erat dengan laki-laki yang mengaku sebagai nabi?" Kemudian saya menjawab: “Akulah kerabat yang paling erat dengannya." Kemudian Heraclius berkata: “Panggil ia dan para sahabatnya ke hadapanku!"
"Heraclius kemudian memberitahu sahabatku bahwa ia ingin bertanya kepadaku perihal orang itu (Muhammad), dan jikalau saya berbohong pastilah dongeng Nabi Muhammad bertentangan dengan ceritaku. Makara kami berada di pengadilan Heraclius. Kemudian Heraclius berkata: "Baiklah, suruh temanmu bangun di belakangmu dan jikalau ia berbohong, maka kamu harus memberitahuku." Demi Allah, seandainya saya tidak takut bahwa temanku akan menjulukiku seorang pembohong, saya tidak akan berbicara jujur perihal Nabi Muhammad."
Jadi Heraclius mengajukan pertanyaan pertama kepadaku 'Apa status keluarganya di antara kaummu?' Jawabku (Abu Sufyan) 'Dia berasal dari keluarga ningrat di antara kami.'
Dan Heraclius bertanya: “Apakah di antara kaummu pernah ada yang mengaku sebagai nabi?” Aku menjawab: “Tidak.”
“Apakah ada di antara nenek moyangnya yang menjadi raja?" tanya Heraclius. Sekali lagi saya (Abu Sufyan) menjawab "Tidak."
Heraclius bertanya: “Apakah para ningrat atau orang miskin mengikutinya?”Aku menjawab: “Hanya orang-orang miskin yang mengikutinya.”
Kemudian Heraclius bertanya lagi “Apakah pengikutnya bertambah atau berkurang ?” Aku menjawab: "Mereka bertambah.”
Kemudian ia bertanya: 'Apakah ada di antara orang-orang yang memeluk agamanya merasa tidak bahagia dan meninggalkan agamanya?' Aku menjawab: "Tidak."
Heraclius kemudian bertanya:  “Apakah kamu pernah menuduhnya berbohong sebelum ia mengaku sebagai nabi?" Sekali lagi saya menjawab "Tidak."
Heraclius berkata: “Apakah ia melanggar gencatan senjatanya?" Aku menjawab: "Tidak. Kami sedang dalam gencatan senjata dengannya dan kami tidak tahu apa yang ia akan lakukan.”
aku tidak sanggup menemukan kesempatan untuk menyampaikan apa-apa melawan Nabi waktu itu. 
Kemudian Heraclius bertanya: “Apakah kamu pernah berperang dengannya?" Dan Aku berkata "Ya.” “Apa hasil dari pertempuran itu?" "Kadang-kadang kami menang dan kadang kala ia yang menang."
Dan kemudian Heraclius bertanya: 'Apa yang ia perintahkan kepadamu?" Dan Aku menjawab: "Dia menyuruh kami untuk menyembah Yang Mahakuasa dan tidak menyembah apa-apa selain daripada-Nya dan untuk meninggalkan semua yang nenek moyang kami katakan. Dia memerintahkan kami untuk berdoa, untuk bicara jujur, untuk menghindari pelacuran, dan untuk menjaga kekerabatan baik dengan kawan-kawan dan kerabat.“
Heraclius meminta penerjemahnya untuk memberikan pesan sebagai berikut. "Aku bertanya perihal keluarganya dan jawabanmu ialah ia berasal dari keluarga yang sangat mulia. Faktanya, semua nabi berasal dari keluarga ningrat di antara bangsa mereka masing-masing.
Aku bertanya apakah ada orang lain di antara kalian yang pernah mengaku-ngaku sebagai nabi, dan kamu menjawab tidak ada. Jika saja jawabanmu pernah ada, saya menduga orang ini hanya menjiplak apa yang orang itu katakan.
Lalu saya bertanya apakah dari nenek moyangnya ada yang seorang raja. Dan kamu berkata "tidak." Andai saja kamu menyampaikan "Ya", saya menduga bahwa orang ini mencoba untuk mengambil kembali tahta kerajaannya. Dengan kata lain, ia memakai kedok kenabian untuk mencoba dan mengambil kembali tahta kerajaannya.
Lalu saya bertanya apakah ia pernah dituduh berbohong sebelum ia mengaku sebagai nabi. Dan kamu menyampaikan "tidak". Maka, bagaimana mungkin orang yang tidak pernah berbohong kepada orang lain, berbohong kepada Allah?
Dan kemudian saya bertanya apakah orang kaya atau orang miskin yang mengikutinya. Kau menyampaikan bahwa orang-orang miskin yang mengikutinya. Dan begitulah para nabi, mereka selalu diikuti orang-orang miskin yang lemah dan tertindas.
Kemudian saya bertanya apakah pengikutnya bertambah atau berkurang. Kau bilang mereka bertambah, dan itulah tanda keimanan yang benar. 
Lebih jauh saya bertanya apakah ada orang yang  tidak bahagia sesudah memeluk agamanya dan meninggalkannya. Dan kamu berkata "Tidak." Faktanya inilah gejala kepercayaan yang benar, yaitu kegembiraan memasuki hati dan bersatu dalam diri seseorang.
Aku bertanya apakah ia pernah berkhianat. Kau menyampaikan "Tidak." Dan sesungguhnya para nabi tidak pernah berkhianat.
Aku bertanya apa yang ia perintahkan kepadamu. Dan kamu menyampaikan bahwa ia memerintahkanmu untuk menyembah Yang Mahakuasa dan tidak menyembah selain daripada-Nya, dan melarangmu menyembah berhala dan menyuruhmu untuk berdoa,  untuk berbicara kebenaran, dan tidak melaksanakan percabulan.
Jika apa yang kamu katakan benar, ia akan segera menempati kerajaan ini di bawah kakiku. Aku tahu ramalan kedatangannya dari kitab suci (Bible) tapi saya tidak tahu bahwa ia berasal dari kaummu. Jika saja saya sanggup menemuinya, niscaya saya akan segera pergi untuk bertemu dengannya. Dan jikalau saya bersamanya, saya akan mencuci kakinya.”
Heraclius kemudian meminta surat dari Nabi Muhammad yang dikirim oleh Dihya kepada Gubernur Busra, dan kemudian surat itu diteruskan kepada Heraclius. Dan inilah isi surat itu:
"Dengan nama Yang Mahakuasa Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad seorang hamba Yang Mahakuasa dan Rasul-Nya kepada Heraclius penguasa Bizantium.  Semoga kesejahteraan mengikuti seseorang yang berada pada jalan kebenaran. Lebih jauh, saya mengundangmu untuk masuk Islam. Dan jikalau kamu menjadi seorang Muslim, maka kamu akan aman, dan Yang Mahakuasa akan melipatgandakan pahalamu. Dan jikalau kamu menolak untuk masuk Islam, maka kamu melaksanakan dosa dikarenakan telah menyesatkan rakyatmu: "Wahai orang-orang Ahli Kitab! Datanglah kepada persamaan dengan kami, bahwa kami tidak menyembah sesuatu selain Allah. Kemudian, jikalau mereka berpaling, katakanlah: Saksikanlah bahwa kami ialah umat Muslim." (3:64) 
"Ketika Heraclius selesai berpidato dan telah membaca surat itu, ada rasa haru dan tangisan yang terdengar di Pengadilan Agung. Dan kami keluar dari ruang pengadilan. Aku berbincang-bincang dengan temanku perihal Ibnu Abi Kabsha. (Ibnu Abi Kasha ialah sebuah julukan untuk Nabi S.A.W.) urusannya telah menjadi begitu besar sehingga bahkan Raja Bizantium takluk padanya. Dan kemudian saya mulai menjadi yakin bahwa ia akan menjadi penguasa dalam waktu erat hingga kesudahannya saya masuk Islam."
Ini dongeng yang luar biasa. Bagaimana Heraclius tahu bahwa ada seorang nabi yang akan datang? Kita akan membicarakannya dalam tulisan berikutnya. Ada beberapa ayat dalam Bible yang memperlihatkan bahwa akan tiba seorang Nabi sesudah Yesus. Dan Nabi itu ialah Nabi Muhammad S.A.W.
0 Komentar untuk "News Islam Kesaksian Para Andal Kitab Perihal Kebenaran Islam | Bab Pertama"

Back To Top