Cari Blog Ini

News Islam Ustadz Adnan Arsal: ‘Muslim Poso Membela Haknya Kenapa Disebut Teroris?’

Kedamaian di Poso pudar semenjak 1998, semenjak polisi tidak lagi menegakkan hukum, semenjak tentara membiarkan umat Islam dibantai. Namun anehnya, saat Muslim Poso bangkit, membela haknya, mereka malah dituding sebagai teroris. Lantas apa akar masalahnya? Temukan jawabannya dalam wawancara wartawan Media Umat Joko Prasetyo dengan Ketua Forum Perjuangan Umat Islam Poso Ustadz Adnan Abdurrahman Saleh (Arsal). Berikut petikannya.


Tanggapan Anda terhadap kasus salah tangkap 14 orang di Poso?
Kemarin saat Kapolri ke Poso saya eksklusif protes. Saat itu, Kapolri tiba didampingi Panglima Tentara Nasional Indonesia dan Kepala BIN. Saya katakan bahwa polisi itu pengecut! Tidak masuk nalar ini! Mengapa Brimob saat ditembak, tidak mengejar penembak? Malah kembali ke masyarakat dan menangkap 14 orang warga itu.
Brimob memukuli mereka hingga babak belur, ada yang patah tulang rusuknya, berbiru-biru muka, mata bengkak, jadi babak belur masyarakat. Brimob pun memaki mereka dengan perkatakan yang sangat kasar, “Kamu ini semua binatang, anjing, babi.”  Mereka pun dibawa ke Polres Poso, ditahan tujuh hari, keluarganya dihentikan menengok.
Ini pendidikan macam apa yang diberikan polisi di Poso? Polisi itu penegak aturan tetapi malah melanggar aturan juga. Harus dituntut dong. Pak Kapolri harus mengusut. Kalau prajurit melaksanakan itu, saya katakan, mustahil prajurit melaksanakan tindakan tanpa komando.
Sehingga ini sudah bukan lagi duduk kasus Poso, ini sudah menjadi duduk kasus negara. Institusi yang tidak bertanggung jawab di dalam mengelola pengamanan negara. Untuk itukah? Maka yang harus dituntut bukan hanya prajuritnya tetapi juga komandannya, termasuk Kapolda Sulawesi Tengah.

Ada apa di balik tindakan pengecut Brimob itu?
Untuk memperpanjang urusan. Agar berita terorisme tetap ada.

Mengapa begitu?
Supaya ada pekerjaan.
Bayangkan saja 500 orang aparat, satu kompi, sangat bisa mengejar dan menyergap penembak itu, namun tidak disergap. Malah kembali ke desa dan menangkapi warga yang tidak bersalah? Apakah tidak memperpanjang urusan namanya. Makara saya tidak habis pikir, apa sih maunya abdnegara dalam menuntaskan masalah ini?

Tindakan brutal ini tidak bisa diterima oleh masyarakat. Lantas, bagaimana polisi bisa menanamkan kepercayaan kepada masyarakat—kalau polisi pelindung masyarakat—bila  begitu caranya? Inikah cara polisi mendidik masyarakat? Makara jangan heran jikalau masyarakat akan balas dendam juga dengan melaksanakan tindakan kekerasan kepada polisi, alasannya yaitu polisi mendidik begitu.
Kemudian masyarakat yang menembak, dituduh lagi sebagai teroris, lalu polisi salah tangkap lagi, main bunuh di tempat lagi, tidak akan selesai masalah. Polisi itu penegak hukum, bukan hukum! Kalau polisi bertindak tidak sesuai hukum, sama saja dengan penjajah ini!
Bila ditelusuri ke belakang, gotong royong menyerupai apa sih awalnya kok Muslim Poso disebut teroris?
Kami tidak bisa menerima, jikalau kami yang dulu membela hak-hak kami, lalu dibilang teroris. Caranya Nasrani dulu membunuh itu, jauh lebih sadis dari orang yang dituduh polisi teroris. Kalau kami menuntut hak kami, kami dibilang teroris, saya bilang Muslim Poso itu sudah dibikin babak belur oleh Nasrani pada waktu itu. Tapi Nasrani tidak dibilang teroris.
Sekian kompi pasukan tiba dari Jakarta, bantuan-bantuan BKO dari tempat lain masuk ke Poso. Kasihan masyarakat yang tadinya damai, melihat abdnegara yang tiba arogan-arogan menyerupai itu, gundah masyarakat, pengamanan menyerupai apa itu?

Datang ke mari bukan menangkap teroris, tetapi masyarakat yang disiksa. Masyarakat tidak bisa kerja ke ladang, dihadang di tengah jalan, dihentikan ke luar rumah. Padahal masyarakat bekerja hari ini untuk makan hari ini, siapa yang mau memberi masyarakat makan hari ini?
Menderita masyarakat, tidak ada kepedulian pemerintah terhadap hal ini. Sekali lagi, ini bukan masalah Poso lagi, ini masalah negara. Negara yang tidak bisa menangani masalah keamanan di kawasan dengan profesional! Tidak menurut undang-undang. Hanya mengikuti maunya sendiri, arogan! Yang terlihat di masyarakat, hanya menyakitkan masyarakat.

Orang Islam dituduh teroris tetapi mengapa Nasrani tidak?
Itu lagunya Amerika, yang negara kita pakai. Padahal negara ini berdaulat, bisa memilih nasibnya sendiri, jangan nurut-nurut saja ke Amerika. Masa, orang-orang Poso yang mengikuti majlis taklim disebut ada gejala-gejala teroris? Shalat berjamaah disebut tanda-tanda teroris? Ini namanya membonsai fatwa Islam. Umat ini mau jadi apa jikalau tidak didakwahi, jikalau tidak ada majlis taklim?
Jadi jikalau kita mengikuti lagunya Amerika?
Sama juga dengan pelecehan terhadap agama Islam. Kalau Islam mengajarkan jihad saat melawan penjajah, melawan kezaliman. Kalau tidak ada jihad, mau jadi apa kita ini? Kalau tidak ada jihad, kita jadi pengecut dalam beragama. Padahal jihad itu fatwa Islam yang murni. Kalau ada orang yang memelesetkan fatwa jihad, itu dosanya orang yang memelesetkan.
Tetapi orang yang memahami “jihad” yang sebenarnya, kok dipelesetkan jadi “teroris”? Itu orang sudah mengikuti lagunya Amerika! Amerika kan takut jikalau melihat umat Islam berjihad! Lihat di Suriah, kezalimannya sudah luar biasa maka masyarakat bangun berjihad. Takut Amerika itu!
Makara jikalau Amerika bilang “teroris, teroris, teroris,” jangan diikuti. Lagunya Amerika itu.

Inti masalah kasus 1998 itu apa?
Hanya duduk kasus bawah umur meminum minuman keras, berkelahi. Persoalannya, mengapa polisi tidak menuntaskan perkelahian bawah umur yang minum minuman keras itu? ditangkap orang yang minum itu, malamnya dilepaskan. Anak-anak marah, alasannya yaitu orang yang minum itu sudah membacok dewasa masjid. Karena tidak terima, maka bawah umur ini main hakim sendiri, dibakarlah rumah orang  yang membacok dewasa masjid itu.
Persoalannya semakin kacau, alasannya yaitu umat Nasrani sekabupaten lalu menyerang ke kota. Sekabupaten, terperinci mustahil tanpa komando. Menurut saya, mabuk dan lalu membacok itu merupakan skenario saja, alasannya yaitu mereka memang sudah berencana untuk menyerang.

Buktinya?
Polisi pun tidak menuntaskan kasus pembacokan itu, malah lalu sehabis bawah umur terpancing, orang Nasrani sekabupaten menyerang Kota Poso, menghabisi umat Islam.
Setelah kita berdamai, berkumpul antara tokoh Islam dan Kristen, tiba-tiba malamnya Nasrani menyerang. Empat kali kita berdamai, empat kali mereka menyerang. Tidak bisa lagi ditolelir lagi pengkhianatan Nasrani itu. Terpaksa saya serukan untuk berjihad!

Mengapa?
Umat Islam sudah dihabisi oleh mereka. Jawabannya tinggal jihad sekarang. Kezaliman yang menyerupai itu perlu adanya jihad alasannya yaitu polisi sudah tidak bisa mengamankan. Umat Islam dihanyutkan di sungai tanpa kepala, Muslimah disobek perutnya, diiris buah dadanya, ada juga Muslimah yang dipancangkan tombak di kemaluannya.

Bagaimana dengan TNI?
Tentara Nasional Indonesia hanya membiarkan mereka masuk, melihat dan membiarkan mereka menyerang umat Islam! Saya tanya pada komandan yang berjaga waktu itu, mengapa mereka dibiarkan masuk? Jawabannya, “karena tidak ada perintah dari atas.”  Lho, umat Islam sudah ratusan jadi korban, mereka tidak mau mengamankan? Ini namanya pembiaran.

Tapi kan risikonya Tibo dan kedua temannya ditangkap dan dihukum mati?
Memang, mereka kan melaksanakan penyerangan, tetapikan bukan hanya Tibo cs. Ada 16 nama yang disebut Tibo di pengadilan yang merancang kerusuhan itu. Bahkan Tibo buat buku itu. Itu bisa dipertanggungjawabkan oleh pengacara Tibo cs.
Cuma anehnya, negara tidak mau mengambil perilaku untuk menyidik yang 16 orang ini. katanya jikalau dituntut lagi, itu bakal ribut. Ini tanggung jawab pejabat pemerintah sangat berat di Hari Kemudian alasannya yaitu tidak menuntaskan masalah ini secara hukum.

Yang 16 orang itu siapa?
Pendeta dan pejabat pemerintah kawasan waktu itu termasuk Yahya Patiro dan Limpadeli. Sampai kini ke-16 orang itu dibiarkan, tidak pernah dipanggil. Padahal banyak bukti dan testimoni dari saksi yang diberikan kepada satgas dari Jakarta waktu itu, Saut Nasution. Bahkan Saut menyampaikan akan membawa berkas bukti dan kesaksian tersebut ke Jakarta untuk diproses, tetapi hingga detik ini tidak ada satu pun yang diproses.
Ada apa gotong royong di belakang semua ini? Umat Islam terus ditekan, ditekan, ditekan dituduh teroris. Sedangkan Nasrani dibiarkan, tidak disebut teroris. Itu bentuk ketidakadilan. Negara macam apa kok mengambil kebijakan semacam ini?
0 Komentar untuk "News Islam Ustadz Adnan Arsal: ‘Muslim Poso Membela Haknya Kenapa Disebut Teroris?’"

Back To Top